Ada satu nasihat yang hampir tak pernah gagal membuat orang mengangguk: “Perbaiki dulu dirimu sendiri. Kalau tiap orang sibuk memperbaiki diri, masyarakat akan ikut membaik dengan sendirinya, lalu negara juga akan ikut sehat.” Nasihat ini bersandar pada ayat yang memang benar dan sering dikutip tepat:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
Innallāha lā yughayyiru mā biqaumin ḥattā yughayyirū mā bi'anfusihim.
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
Ayat ini benar, dan penekanannya pada perubahan diri memang sentral dalam Islam. Tapi ada satu pertanyaan yang jarang ditanya lebih jauh: apakah “memperbaiki diri” itu otomatis merembes jadi masyarakat yang baik, lalu negara yang baik, tanpa perlu menyentuh sistem sama sekali? Di titik inilah HTI, lewat kitab-kitab dasarnya, punya jawaban tegas, dan jawaban itu ada baiknya diperiksa, bukan cuma diterima atau ditolak mentah-mentah.
Argumen HT: Masyarakat Bukan Sekadar Kumpulan Individu
Salah satu kitab pengantar HTI, Mafahim Hizbut Tahrir, punya satu bab yang secara eksplisit menyoal ini, berjudul “Masyarakat Bukan Kumpulan Individu”. Definisinya:
“Masyarakat tidak tersusun dari individu saja. Individu adalah bagian dari kelompok, dan yang mempersatukan mereka adalah pemikiran (afkar), perasaan (masya’ir), dan peraturan (anzhimah).”
Menurut kerangka ini, memperbaiki individu satu per satu, tanpa menyentuh tiga hal yang mempersatukan mereka, tidak cukup untuk mengubah masyarakat secara keseluruhan. Individu yang saleh pun, kalau hidup di bawah sistem yang menyimpang, dianggap “tak berkutik”, sedangkan sistem yang berubah bisa mempersempit ruang maksiat, semisal menutup akses judi atau pornografi, tanpa harus menunggu tiap individu berubah lebih dulu satu-satu.
Kitab ini memakai perumpamaan yang cukup hidup: masyarakat itu seperti air di dalam tempayan. Kalau ada yang membekukannya, ia jadi es, diam dan terkurung. Kalau ada api yang memanaskannya, ia mendidih, bergerak, sampai menguap sebagai tenaga penggerak. Mabda atau prinsip dasar masyarakat itulah yang menentukan mana dari dua keadaan itu yang terjadi, bukan semata jumlah individu baik yang ada di dalamnya.
Ada satu maksim yang sering menyertai argumen ini: “Perbaikilah masyarakat, niscaya individu menjadi baik dan terus-menerus dalam keadaan baik.” Perlu dicatat jujur, kalimat ini di dalam kitab sendiri disajikan sebagai kaidah, bukan hadits, dan tidak disebutkan perawinya. Ini poin kecil tapi penting, sebab kalimat bergaya hadits seperti ini gampang dikutip ulang seolah sabda Nabi kalau tidak diperiksa sumbernya, dan kitab aslinya sendiri tidak mengklaim demikian.
Titik yang Perlu Diperiksa, Bukan Ditelan Bulat
Argumen “masyarakat = afkar + masya’ir + anzhimah” ini punya daya jelas sebagai kerangka analisis. Tapi ada lompatan logis yang layak diperiksa: dari “masyarakat butuh perbaikan sistem, bukan cuma individu” menuju “maka perbaikan harus dimulai dari mengambil-alih sistem/negara lebih dulu, sebelum yang lain berarti”. Lompatan ini yang sebenarnya jadi titik beda paling tajam antara HTI dan kebanyakan gerakan dakwah lain yang menekankan tarbiyah personal sebagai pijakan awal.
QS Ar-Ra’d 13:11 di atas menekankan perubahan dimulai dari diri sendiri, bukan menyebut mekanisme sistem sama sekali. Tidak ada di ayat itu klausul “kecuali kalau sistemnya juga direbut lebih dulu”. Artinya, argumen “afkar+anzhimah” itu sah sebagai satu cara membaca realitas sosial, dan ada logikanya, tapi bukan satu-satunya cara membaca ayat ini, dan bukan simpulan yang otomatis mengikuti dari ayat itu sendiri.
Bukan Dikotomi: Individu dan Sistem Saling Kait
Di sinilah letak posisi yang lebih jujur, dan ini juga sudah dibahas dari sisi lain di seri tulisan ini soal Qana’ah Bukan Pasrah pada Zalim dan Tawakal Bukan Obat Bius. Ada kritik yang benar di balik semangat “perbaiki sistem juga, jangan cuma individu”: kalau nasihat “perbaiki dirimu dulu” dipakai untuk membungkam setiap kritik atas kerusakan struktural, seolah bicara soal sistem itu tanda kurang sabar atau kurang syukur, itu sama persis dengan pola yang sudah dibongkar di tulisan-tulisan sebelumnya, kebenaran yang dipakai untuk menyuruh orang diam.
Tapi menerima kritik itu tidak otomatis berarti menerima simpulan HT bahwa perbaikan sistem harus didahulukan dan diwujudkan lewat pengambilalihan kekuasaan negara. Ada jalan tengah yang lebih tua dari perdebatan ini: individu dan sistem sama-sama perlu diperbaiki, berjalan beriringan, bukan menunggu salah satu selesai dulu baru yang lain dimulai. Tarbiyah personal membentuk manusia yang punya kejernihan dan keberanian untuk turut memperbaiki sistem di sekitarnya, sementara sistem yang lebih baik mempermudah, bukan menggantikan, proses tarbiyah itu sendiri. Dua-duanya berjalan bersama, bukan berurutan menunggu satu tuntas.
Pagar: Dua Jurang yang Sama-sama Ditolak
Jurang pertama, memakai “perbaiki dirimu dulu” untuk membungkam kritik terhadap kerusakan yang sifatnya struktural, seolah bicara sistem itu pengalih perhatian dari introspeksi. Ini pola yang sama dengan menjadikan qana’ah, tawakal, atau sabar sebagai obat bius, dan sudah dibahas di tulisan-tulisan lain dalam seri ini.
Jurang kedua, arah sebaliknya, memakai kritik atas sistem untuk menyimpulkan bahwa tarbiyah personal tidak penting, atau bahwa satu-satunya jalan sah adalah mengambil-alih kekuasaan negara lebih dulu sebelum yang lain berarti. Ini juga terlalu jauh, dan tidak mengikuti secara otomatis dari kritik yang benar di jurang pertama.
Yang jujur ada di tengah: masyarakat memang lebih dari sekadar kumpulan individu, kerangka afkar-masya’ir-anzhimah punya nilai analitis yang nyata, tapi itu tidak berarti perbaikan individu jadi tidak relevan sampai sistem berubah lebih dulu. Untuk pengantar HTI secara umum, HTI Itu Apa bisa dibaca lebih dulu, dan penjelasan tentang metode perubahan yang mereka tempuh ada di Khilafah Menurut HT.