Di Solo Leveling, Sistem tidak pernah muncul sebagai pilihan. Ia adalah kerangka yang mengatur segalanya: quest apa yang muncul, aturan apa yang berlaku, dan apa konsekuensinya. Orang bisa menolak atau menerimanya, tapi tidak bisa berpura-pura bahwa Sistem tidak ada dan tetap memahami dunianya dengan benar.
Ada kecenderungan yang sama dalam cara sebagian orang membahas khilafah: memperlakukannya sebagai pilihan yang bisa diterima atau ditolak, seperti memilih antara satu merek dan merek lain. Padahal dalam kerangka Islam, pertanyaannya tidak dimulai dari sana. Khilafah bukan sekadar opsi bentuk pemerintahan yang ditawarkan di pasar ide; ia adalah bagian dari cara Islam memandang hidup secara menyeluruh. Artikel ini mencoba menjelaskan posisi itu, dengan tenang dan tanpa memaksa.
Khilafah dalam Islam: Bukan Sekadar Istilah Politik
Ketika mendengar kata khilafah, kebanyakan orang langsung membayangkan sesuatu yang politis: pemimpin, negara, hukum, kekuasaan. Tidak salah, tapi terlalu sempit. Dalam kerangka Islam, khilafah berdiri di atas pemahaman yang lebih mendasar tentang apa itu Islam.
Islam tidak dipahami oleh para ulama sebagai sekumpulan ritual yang terpisah dari kehidupan. Ia adalah din, cara hidup yang mencakup aqidah, ibadah, akhlak, dan juga pengaturan kehidupan bersama. Dari pemahaman inilah muncul konsekuensi logisnya: jika Islam mengatur cara hidup, maka ia juga berbicara tentang bagaimana urusan bersama diatur. Dan di situlah posisi khilafah berada, sebagai bentuk pengaturan itu dalam sejarah umat.
Maka arti khilafah dalam islam tidak bisa dipahami dengan memotongnya dari akar ini. Ia bukan ide yang datang dari luar lalu menumpang pada Islam; ia tumbuh dari cara Islam memandang kehidupan itu sendiri.
Kedudukan Khilafah dalam Aqidah dan Syariah
Perlu dibedakan dua hal yang sering dicampur: khilafah sebagai keyakinan (aqidah) dan khilafah sebagai ketentuan syariah.
Dalam persoalan aqidah, tidak ada seorang muslim pun yang dianggap keluar dari Islam hanya karena tidak memperjuangkan khilafah secara praktis. Aqidah berdiri di atas keyakinan kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, dan hari akhir. Khilafah bukan bagian dari rukun iman.
Namun dalam pembahasan syariah, para ulama membahas kedudukan khilafah sebagai bagian dari pengaturan urusan umat. Banyak ulama yang membahasnya sebagai kewajiban kolektif umat: kebutuhan akan pemimpin yang menegakkan hukum syariat dan menjaga urusan kaum muslimin. Perbedaan pendapat pun ada di kalangan ulama, baik tentang kewajibannya, bentuknya, maupun cara pengangkatannya. Perbedaan ini wajar dan seharusnya dibahas secara ilmiah, bukan ditutup dengan label.
Yang penting dipahami: khilafah bukan soal keyakinan yang membuat seseorang kafir atau tidak. Ia adalah pembahasan syariah yang serius, dengan ikhtilaf yang jujur di dalamnya.
Yang Sering Terlewat dalam Pembahasan
Ada dua kesalahan yang sering terjadi saat khilafah dalam islam dibahas.
Pertama, menyamakan khilafah dengan satu organisasi atau gerakan tertentu. Ini kesalahan paling umum. Khilafah adalah konsep yang jauh lebih tua dari organisasi mana pun, dan konsep tidak bisa dihakimi dengan menunjuk pada perilaku sebagian pengusungnya.
Kedua, membuang pembahasan ini begitu saja dengan alasan “sudah usang” atau “tidak realistis”. Padahal membuang sebuah pembahasan bukanlah jawaban; ia cuma memindahkan pertanyaan ke bawah permukaan. Dan pertanyaan tentang bagaimana urusan umat seharusnya diatur tidak akan hilang hanya karena dianggap selesai.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa arti khilafah dalam islam?
Secara ringkas, khilafah dalam islam adalah sistem kepemimpinan umat yang menggantikan fungsi kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia, sebagai konsekuensi dari pandangan Islam sebagai cara hidup yang menyeluruh.
Apakah khilafah bagian dari aqidah?
Tidak. Khilafah bukan rukun iman dan tidak menentukan keislaman seseorang. Ia dibahas dalam ranah syariah sebagai pengaturan urusan umat, dengan ikhtilaf yang ada di kalangan ulama.
Mengapa pembahasan ini penting jika bukan aqidah?
Karena ia menyangkut pertanyaan tentang bagaimana umat Islam memandang urusan bersama mereka. Pertanyaan itu tidak hilang hanya karena tidak dibahas, dan cara umat menjawabnya akan menentukan arahnya.
Apakah semua ulama sepakat tentang khilafah?
Tidak. Ada perbedaan pendapat tentang kewajiban, bentuk, dan cara pengangkatannya. Perbedaan ini adalah bagian dari tradisi ilmiah Islam dan seharusnya dibahas dengan adab, bukan ditutup dengan vonis.
Mengapa Ini Perlu Dipahami dengan Tenang
Khilafah dalam islam sering menjadi topik yang membuat ruangan mendadak panas. Padahal semakin panas suatu pembahasan, semakin sedikit yang bisa didengar. Padahal yang dibutuhkan justru ketenangan: membedah istilah, memisahkan aqidah dari syariah, dan membiarkan perbedaan pendapat berbicara secara ilmiah.
Ketika itu dilakukan, khilafah berhenti menjadi kata yang menakutkan dan kembali menjadi apa adanya: sebuah pembahasan dalam tradisi pemikiran Islam yang layak dipelajari, ditimbang, dan dipahami dengan jujur. Tidak lebih, dan tidak kurang.
Kalau kamu baru memulai, apa itu khilafah adalah pintu masuk yang baik, dan khilafah artinya menjelaskan akar katanya. Sejarahnya bisa ditelusuri lebih jauh lewat kekhalifahan.