EE-RankTergugah · LEVEL
Refleksi 16 September 2026 4 mnt baca
Arc Kebangkitan & Dakwah · Bagian 7 dari 22

Budaya Pongah dan Congkak: Ujung dari Kekayaan Tanpa Hisab

Empat tulisan sebelumnya membahas data, sistem, dan uang. Yang terakhir ini soal hatimu sendiri: apa yang terjadi kalau kekayaan lupa dari mana ia datang?

Budaya Pongah dan Congkak: Ujung dari Kekayaan Tanpa Hisab
Daftar Isi

Empat tulisan sebelumnya membawamu berkeliling: dari data ketimpangan, ongkos politik, sampai dua kerangka keadilan yang berebut jadi solusi. Semuanya soal sistem, angka, dan kekuasaan. Tulisan penutup ini soal sesuatu yang lebih dekat, dan mungkin lebih sulit kamu akui: hatimu sendiri, seandainya kekayaan sebesar itu ada di tanganmu.

Bukan Kontrol Ekonomi yang Paling Berbahaya

Dari seluruh sorotan tentang oligarki, ada satu titik yang sering luput: bahaya terbesarnya bukan cuma kontrol atas ekonomi atau politik. Yang lebih berbahaya adalah budaya yang lahir darinya, sikap pongah dan congkak yang membuat pemiliknya merasa orang di bawahnya “tidak punya apa-apa” untuk ditawar. Kamu mungkin membayangkan ini cuma soal orang lain, orang yang kekayaannya jauh di luar jangkauanmu. Tapi coba jujur pada dirimu sendiri: kalau tiba-tiba kamu punya sepersepuluh saja dari kekayaan yang kita bahas di tulisan-tulisan sebelumnya, apa kamu yakin hatimu tidak akan bergeser sedikit pun?

Qarun: Kekayaan yang Lupa dari Mana Ia Datang

Al-Quran sudah merekam pola ini jauh sebelum ada istilah oligarki. Qarun, disebut termasuk kaum Nabi Musa, dianugerahi kekayaan yang kunci-kunci gudangnya saja berat dipikul sejumlah orang kuat. Kaumnya sempat mengingatkannya: jangan terlalu bangga, carilah bagian akhirat dari apa yang sudah dianugerahkan, tapi jangan lupakan juga bagianmu di dunia, dan jangan berbuat kerusakan di bumi.

Jawaban Qarun jadi inti masalahnya.

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

Qāla innamā ūtītuhū 'alā 'ilmin 'indī.

"Dia (Karun) berkata, 'Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.' Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka."

QS Al-Qashash [28]: 78

Perhatikan letak masalahnya. Bukan hartanya, tapi klaimnya: seolah semua itu murni hasil kepandaiannya sendiri, tanpa sisa ruang untuk mengakui bahwa itu titipan. Kamu mungkin pernah dengar versi lunak dari kalimat ini di sekitarmu, atau bahkan dari mulutmu sendiri tanpa sadar: “ini semua hasil kerja keras saya”, titik, tanpa koma untuk menyebut siapa yang memberi kesempatan itu ada sejak awal.

Ilustrasi bentuk segitiga puncak yang menjulang tinggi dari garis tanah, lalu di sisi lain garis tanah yang sama ada fragmen segitiga serupa yang terbenam dan memudar ke bawah, menandakan sesuatu yang naik tinggi lalu tenggelam ke dalam bumi, motif geometris abstrak tanpa figur manusia
Naik setinggi apa pun, kalau lupa sumbernya, arah berikutnya cuma satu.

Dibenamkan ke Bumi, Bukan ke Angan-Angan

Qarun keluar menemui kaumnya dengan segala kemegahannya. Sebagian orang yang menginginkan kehidupan dunia sampai berandai-andai, “mudah-mudahan kita punya harta seperti Qarun”. Tapi orang-orang yang diberi ilmu justru mengingatkan sebaliknya: pahala Allah jauh lebih baik bagi yang beriman dan beramal saleh, dan itu cuma diperoleh orang-orang yang sabar.

Lalu bagian yang paling keras datang.

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنتَصِرِينَ

Fa khasafnā bihī wa bidārihil-arḍa.

"Maka Kami benamkan dia (Karun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri."

QS Al-Qashash [28]: 81

Bukan dikalahkan pesaing, bukan digulingkan kudeta. Kekayaan yang tadinya dibanggakan sebagai bukti kehebatan, sama sekali tidak berdaya menyelamatkan pemiliknya sendiri begitu perhitungan Allah datang.

Kekayaan yang dibanggakan sebagai bukti kehebatan, ternyata tidak berdaya menyelamatkan pemiliknya sendiri.

Yang Kemarin Iri, Hari Ini Tersadar

Ayat penutup kisah ini yang paling layak kamu renungkan. Orang-orang yang kemarin berandai-andai ingin seperti Qarun, esoknya berkata sendiri: ternyata benar, Allah yang melapangkan dan membatasi rezeki siapa pun yang Dia kehendaki, dan kalau bukan karena karunia-Nya, mereka pun bisa dibenamkan seperti itu. Rasa iri yang kemarin membakar, berubah jadi kesadaran dalam semalam.

Kesadaran seperti itu ada jejaknya juga dalam hadits. Nabi ﷺ bersabda, tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi sekalipun, diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dalam Sahih Muslim. Takabbur dalam riwayat lain didefinisikan sebagai menolak kebenaran dan meremehkan orang lain, bukan sekadar soal gaya hidup mewah.

Tapi Islam tidak menyuruhmu menyembunyikan nikmat seolah kekayaan itu sendiri yang salah. Dalam riwayat lain, dinilai hasan oleh sebagian ulama hadits, Nabi ﷺ menyebut Allah suka melihat tanda nikmat-Nya tampak pada hamba-Nya. Bedanya jelas: yang dilarang adalah kesombongan yang menutup mata dari sumber nikmat, bukan rasa syukur yang wajar tampak dalam keseharianmu.

Infografis perjalanan kisah Qarun: kekayaan besar yang dianugerahkan, klaim bahwa harta itu semata hasil kepandaian sendiri, dibenamkan ke bumi bersama rumahnya, dan kesadaran orang lain bahwa rezeki sepenuhnya karunia Allah, dibandingkan dengan hadits larangan takabbur dan hadits tentang tanda nikmat yang boleh tampak
Satu kisah, dua pelajaran: takabbur yang dibenamkan, dan syukur yang boleh terlihat.

Bukan Berapa Banyak yang Kamu Punya

Di titik ini, kamu mungkin merasa tulisan ini agak jauh dari data ketimpangan dan ongkos politik yang saya bahas di tulisan-tulisan sebelumnya. Tapi justru di sinilah semuanya bertemu. Qana’ah dalam Islam bukan alasan untuk pasrah pada kezaliman, dan di sisi lain, bagi siapa pun yang dititipi harta, standarnya juga sama: bukan berapa banyak yang kamu kumpulkan, tapi bagaimana kamu memegangnya. Semua ini kembali ke satu titik yang sama: hidup yang utuh tidak memisahkan cara kamu mencari rezeki dari kesadaran bahwa rezeki itu sendiri sudah ditakdirkan, bukan murni hasil kepandaianmu semata seperti klaim Qarun.

Harta bisa membuat siapa pun lupa dari mana ia datang, dan lupa ke mana ia akan kembali. Islam mengingatkan, semua akan dihisab, sekecil apa pun. Genderang yang saya tabuh di tulisan pembuka series ini bukan cuma soal melawan sistem yang zalim di luar sana. Menurutmu, kalau kamu benar-benar dititipi kekayaan sebesar yang kita bahas sepanjang series ini, mana yang lebih dulu berubah, caramu memandang orang lain, atau caramu memandang Allah yang menitipkannya?

Penulis
Raja Baya

Menulis dari bayang. Pesta sejati ada di hati yang sadar.

Tulisan ini adalah eksplorasi pemikiran dan diskusi akademis-keagamaan. Tidak bertujuan rekrutmen organisasi apapun. Pembaca diharapkan berpikir kritis dan merujuk sumber primer.
← Kembali ke semua artikel