BB-RankMenguji · LEVEL
Bedah • 5 November 2026 • 9 mnt baca
Al-Albani dan An-Nabhani · Bagian 11 dari 13

Membentuk Syakhshiyah Islamiyah: Adakah Jalan Tercepat?

Al-Albani menawarkan tashfiyah dan tarbiyah, An-Nabhani pembinaan berjamaah. Adakah jalan tercepat membentuk kepribadian Islam, dan cukupkah membina individu?

Membentuk Syakhshiyah Islamiyah: Adakah Jalan Tercepat?
Daftar Isi

Di Solo Leveling, Sistem memberi Sung Jinwoo satu tugas harian yang membosankan: seratus push-up, seratus sit-up, seratus squat, dan lari sepuluh kilometer. Kalau selesai, ia diberi hadiah. Kalau dilewatkan, ia dihukum. Tidak ada jalan pintas di situ. Kamu mungkin sedang mencari hal sebaliknya: jalan pintas supaya cepat menjadi muslim yang utuh.

Ringkasan 60 detik. Untuk membentuk satu orang, rumusan Al-Albani dan An-Nabhani hampir sama: ilmu yang benar dan amal di atasnya. Soal cepat, Al-Albani menyebut jalannya butuh usaha yang sangat besar, sedangkan An-Nabhani menulis bahwa jamaah membangkitkan orang lebih singkat daripada sekolah. Bedanya ada di langkah sesudah membentuk satu orang. Al-Albani mendidik pribadi-pribadi dulu, baru mengelompokkan. An-Nabhani membina orang di dalam jamaah sejak awal, karena menurutnya masyarakat bukan sekadar kumpulan individu. Jadi yang perlu kamu timbang bukan hanya kecepatannya, melainkan jenis hasilnya.

Episode ini engsel bagi dua episode lain. Di episode tentang siapa yang berdosa kamu membaca bahwa, menurut HT, umat wajib mengingatkan pihak yang lalai. Di episode tentang jalan Rasul di Makkah kamu membaca tashfiyah-tarbiyah dan tiga marhalah sebagai dua jalan. Pertanyaan yang tersisa: siapa yang sanggup mengingatkan itu, orang per orang atau masyarakat?

Apa Itu Syakhshiyah?

Istilah syakhshiyah Islamiyah adalah istilah An-Nabhani, dan ia membukanya dengan kalimat ini:

الشخصية في كل إنسان تتألف من عقليته ونفسيته، ولا دخل لشكله ولا جسمه ولا هندامه ولا غير ذلك، فكلها قشور

"Kepribadian pada setiap manusia tersusun dari aqliyah dan nafsiyahnya. Bentuk, tubuh, penampilan, dan hal lain semacam itu tidak ada sangkut pautnya. Semua itu hanya kulit."

An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz 1, bab "Asy-Syakhshiyyah" (edisi Maktabah hlm. 13)

Aqliyah adalah cara kamu menilai sesuatu, dan nafsiyah adalah cara kamu memenuhi naluri dan kebutuhanmu. Menurut An-Nabhani, membentuk kepribadian berarti “إيجاد قاعدة واحدة لعقلية الإنسان ونفسيته معاً”, mewujudkan satu kaidah yang sama bagi keduanya. Bila kaidah itu akidah Islam, jadilah ia syakhshiyah Islamiyah.

Satu sisi saja tidak cukup. Kitab terbitan Hizbut Tahrir, Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah (mukadimah, 2004), memberi dua contoh: orang yang pandai menganalisis tapi ibadahnya tidak ikut, dan orang yang rajin beribadah tanpa ilmu sampai bersedekah dengan harta riba sambil mengira dirinya berbuat baik. Kitab itu juga mengakui celah perilaku tetap ada, sebab manusia bukan malaikat.

Ada satu pembedaan dalam bab An-Nabhani tadi yang dekat dengan zamanmu. Makna yang kamu tangkap dari sebuah kalimat belum tentu menjadi mafhum. Selama kamu belum menangkap kenyataannya dan membenarkannya, ia baru “مجرد معلومات”, sekadar informasi. Dan yang menggerakkan perilaku, katanya, adalah mafhum, bukan informasi.

Ilustrasi dua rumusan pembinaan. Di kiri, berlabel An-Nabhani: dua tiang berlabel aqliyah dan nafsiyah berdiri di atas satu alas berlabel akidah. Di kanan, berlabel Al-Albani: dua kotak berurutan, tashfiyah lalu tarbiyah, dihubungkan panah. Di bawah keduanya tertulis ilmu dan amal, bersama.
Untuk satu orang, dua rumusan itu berisi hal yang sama: ilmu dan amal.

Jalan Al-Albani: Murnikan, Didik, Baru Kelompokkan

Al-Albani tidak memakai istilah syakhshiyah. Rumusannya dua kata, dan ia sendiri menyebut betapa beratnya:

فيجب التصفية والتربية، تصفية الإسلام من كل ما هو غريب عنه، وهذا يحتاج إلى جهود جبارة جداً، وأن يقترن مع هذه التصفية تربية المسلمين على هذا الإسلام المصفى

"Maka wajib tashfiyah dan tarbiyah: memurnikan Islam dari segala yang asing darinya, dan ini membutuhkan usaha yang sangat besar, lalu pemurnian itu harus disertai pendidikan kaum muslimin di atas Islam yang telah dimurnikan ini."

Al-Albani, Jami' Turats Al-Albani fi al-Manhaj (Shamela 145205), ص371, transkrip ceramah

Yang dimurnikan ada empat: akidah, hadits, fikih, dan perilaku (ص370). Lalu urutannya ia rumuskan sendiri: langkah Rasul, katanya, berdiri di atas “التثقيف ثم التكتيل”, pembinaan dulu, baru pengelompokan (ص1366).

Al-Albani tidak menolak kerja bersama. Ia menyetujui perkumpulan para ahli dari berbagai bidang, dengan syarat tanpa baiat, tanpa ketaatan yang mengikat, dan tanpa nama atau tanda yang membedakan dari kaum muslimin (ص1367). Tapi coba kamu baca pengakuannya tentang keadaan saat itu:

هذا أمر واجب... ولكن أين أولئك الرجال الذين يستطيعون أن يقوموا بهذا الواجب؟

"Ini perkara yang wajib... tetapi di mana orang-orang yang sanggup menunaikan kewajiban ini?"

Al-Albani, Jami' Turats Al-Albani fi al-Manhaj (Shamela 145205), ص1368, transkrip ceramah (tanda "..." menandai bagian yang dilompati)

Ia melanjutkan bahwa pekerjaan itu butuh puluhan ulama, “وهؤلاء غير موجودين”, dan mereka belum ada. Jadi menurut ukurannya sendiri, jalan ini sedang menyiapkan orang, dan jamaahnya menyusul.

Jalan Hizbut Tahrir: Partai, Bukan Sekolah

HT membina orang dalam kelompok kecil juga, untuk “إيجاد الشخصيات الإسلامية القادرة على حمل الدعوة”, mewujudkan pribadi-pribadi Islam yang sanggup mengemban dakwah (Kitab Hizb at-Tahrir, hlm. 34). Bedanya, mereka menegaskan kerja itu bukan kerja sekolah: “وليس عمله عملاً تعليمياً، فهو ليس مدرسة” (Manhaj Hizb at-Tahrir fi at-Taghyir, bagian yang mulai di hlm. 28).

Dalam At-Takattul al-Hizbi, An-Nabhani merinci tiga beda. Sekolah bersifat rutin, sedangkan partai bergerak membentuk masyarakat. Sekolah mendidik individu dan hasilnya individual, sedangkan partai mendidik jamaah dan hasilnya jamaah. Sekolah menyiapkan perasaan orang per orang, sedangkan partai menyiapkan perasaan bersama. Kalimat kuncinya dalam terjemahan Indonesia: hasil pendidikan sekolah “bersifat individual, tidak bersifat jama’ah”, sedangkan hasil pembinaan partai “bersifat jama’ah, bukan bersifat individual” (terjemahan HTI-Press 2007, hlm. 55; ringkasan tiga bedanya di hlm. 56 sampai 57). Bagian ini aku baca dari terjemahannya, bukan dari teks Arab.

Dasarnya adalah definisi mereka tentang masyarakat:

فالمجتمع ليس أفراداً فقط، وإنما هو أفراد وعلاقات، أي أفراد وأفكار ومشاعر وأنظمة

"Masyarakat bukan hanya individu-individu. Ia adalah individu dan hubungan di antara mereka, yaitu individu, pemikiran, perasaan, dan aturan."

Hizbut Tahrir, Kitab Hizb at-Tahrir, hlm. 16

Kalau definisi ini kamu pegang, seribu orang saleh belum tentu menjadi satu masyarakat, selama pemikiran, perasaan, dan aturan yang mengikat mereka belum berubah.

Dari Individu ke Masyarakat

Di sinilah engselnya, dan di sini dua ulama itu lebih dekat daripada yang kamu duga. Bagi HT, hajat satu orang dan hajat umat tidak bisa dipisah dari tujuan yang sama: melanjutkan kembali kehidupan Islam, yang hari ini sudah 102 tahun terhenti. Soal menegakkan khalifah dan mengingatkan penguasa, An-Nabhani menulis:

والقيام بهذا الواجب لا يتأتى على وجه من أفراد؛ لأن الفرد عاجز بمفرده عن القيام بهذا الواجب، أي عن إقامة خليفة، أو محاسبة الحاكم، فكان لا بد من تكتل جماعة من المسلمين تكون قادرة على القيام بهذا الواجب

"Kewajiban ini tidak terlaksana lewat perorangan, sebab satu orang sendirian tidak mampu menunaikannya, yaitu menegakkan khalifah atau mengoreksi penguasa. Karena itu harus ada kelompok kaum muslimin yang mampu menunaikan kewajiban ini."

An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz 3, hlm. 45

Perhatikan bahwa kalimat itu tidak meremehkan usaha satu orang. Ia berkata bahwa satu orang tidak sanggup sendirian. Al-Albani ditanya hal yang hampir sama, apakah mengembalikan khilafah dan melanjutkan kehidupan Islam cukup dengan “الجهد الفردي المبعثر”, usaha perorangan yang berserakan di sana-sini. Jawabannya dua kalimat:

ما يكفي. ... لا بد من التكتل في الحدود التي سبق الكلام عليها

"Tidak cukup. ... Harus ada pengelompokan dalam batas-batas yang sudah dibicarakan tadi."

Al-Albani, Jami' Turats Al-Albani fi al-Manhaj (Shamela 145205), ص1370, transkrip ceramah (tanda "..." menandai pergantian penanya)

Jadi pada teks yang terbaca, keduanya sepakat bahwa usaha perorangan yang berserakan tidak cukup untuk tujuan itu. Yang mereka perselisihkan adalah bentuk dan batas pengelompokannya: HT menjadikannya kelompok politik yang sanggup menegakkan khalifah, sedangkan Al-Albani membatasinya (tanpa baiat, tanpa ketaatan yang mengikat, tanpa tanda pembeda, ص1367) dan menaruhnya sesudah pembinaan.

An-Nabhani juga menulis hal yang sejalan tentang berpikir politik: agar bermanfaat, “haruslah ia beralih menjadi proses berpikir kolektif dan keluar dari tempurung individu” (At-Tafkir, terjemahan Pustaka Thariqul Izzah 2003, hlm. 154).

Satu titik temu lain ada pada isi pembinaannya. An-Nabhani merinci kepribadian Islam pada akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak (Nizham al-Islam, bab akhlak, hlm. 141 sampai 144). Al-Albani menyebut empat hal yang dimurnikan: akidah, hadits, fikih, dan perilaku (ص370). Dua daftar itu tidak sama persis, tetapi sama-sama menolak ilmu tanpa amal. Rancangan konstitusi HT pun memuat bidang yang menjadi garapan Al-Albani: pendidikan negara bertujuan membentuk kepribadian Islam (pasal 171 sampai 172), dan riset fikih, ushul, hadits, serta tafsir dimajukan sampai lahir banyak mujtahid (pasal 179). Ini tulisan tentang negara yang belum ada, bukan klaim bahwa HT sudah melakukannya.

Sirah yang kamu baca di episode tentang jalan Rasul di Makkah juga berurutan begitu. Mush’ab bin Umair membina Madinah sampai hampir tiap rumah Anshar punya muslim (Sirah Ibnu Hisyam, ص364), dan baru sesudah itu Madinah siap menerima Rasulullah ﷺ.

Supaya adil, Al-Albani punya keberatan dari arah sebaliknya. Ia bertanya bagaimana nasib sebuah perkumpulan “الذي يقوم على الجهل وليس على العلم”, yang berdiri di atas kebodohan dan bukan di atas ilmu tentang Islam dari segala sisinya (ص1366). Di halaman itu ia berbicara tentang perkumpulan yang tidak punya puluhan ahli di tiap bidang, dan ia tidak menyebut nama HT.

HT sendiri tidak berdiri tanpa ilmu. Ikatan keanggotaannya mensyaratkan “النضج في الثقافة الحزبية، وقيامه بالالتزامات الإسلامية”, kematangan dalam tsaqafah dan pelaksanaan kewajiban-kewajiban Islam (Kitab Hizb at-Tahrir, hlm. 22), dan tsaqafah itu dipelajari untuk diamalkan. Jadi yang diperselisihkan bukan ada atau tidaknya ilmu, melainkan ilmu menurut ukuran siapa: yang sudah dimurnikan menurut ukuran Al-Albani, atau yang diadopsi dengan dalil menurut ukuran HT. Kamu sudah melihat contoh selisih ukuran itu di episode tentang hadits ahad.

Jadi, Adakah Jalan Tercepat?

Jawaban jujurnya ada tiga lapis.

Pertama, hanya satu pihak yang berbicara soal cepat. Al-Albani menyebut pemurnian itu butuh usaha yang sangat besar. An-Nabhani menulis bahwa jamaah mampu membangkitkan individu-individunya “dengan sedikit usaha dalam waktu lebih singkat” dibanding sekolah (At-Takattul al-Hizbi, terjemahan HTI-Press 2007, hlm. 56). Itu klaim dari penalarannya, dan tulisan ini tidak punya data untuk mengujinya. Ia pun tidak menjanjikan jalan pintas: jarak antara berpikir dan terwujudnya, katanya, bisa dekat dan bisa jauh, “masalahnya bukanlah masalah jarak” (At-Tafkir, hlm. 107). Kalau ada yang menjanjikanmu kepribadian Islam dalam hitungan pekan, janji itu tidak berasal dari dua sumber ini.

Kedua, kecepatan bukan ukuran benarnya sebuah jalan. HT menulis bahwa hasil bukan ukuran sahnya sebuah thariqah (Muqaddimat ad-Dustur jilid 2, penjelasan pasal 183). Ukuran itu berlaku ke dua arah.

Jalur yang tampak lambat tidak otomatis salah, dan jalur yang tampak cepat tidak otomatis benar.

Ketiga, yang bisa kamu timbang adalah jenis hasilnya. Ini penimbanganku, bukan fatwa. Menurut ukuran An-Nabhani, jalan yang mendidik orang per orang akan menghasilkan pribadi-pribadi yang baik, bukan masyarakat, dan Al-Albani sendiri bertanya di mana orang-orangnya. Menurut ukuran Al-Albani, jamaah harus menunggu ilmu yang dimurnikan, dan di situ kedua pihak berbeda soal ukuran ilmu, bukan soal perlunya ilmu. Keduanya ijtihad, dan mana yang rajih kamu timbang lewat dalil, seperti di episode-episode sebelumnya.

Untuk dirimu sendiri, ada tiga pertanyaan yang bisa kamu bawa ke majelis mana pun: apakah pemahamanku bertambah, apakah amalku ikut berubah, dan apakah aku tumbuh bersama orang lain atau sendirian?

Infografis tiga bagian tentang membentuk kepribadian Islam: rumusan An-Nabhani tentang aqliyah dan nafsiyah, rumusan Al-Albani tentang tashfiyah dan tarbiyah lalu pengelompokan, dan pertanyaan individu atau masyarakat, ditutup tiga pertanyaan uji untuk majelis apa pun.
Yang ditimbang bukan hanya kecepatan, melainkan jenis hasilnya.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah syakhshiyah Islamiyah berarti tidak pernah berbuat salah?

Tidak. Teks HT sendiri menyebut celah perilaku tetap ada karena manusia bukan malaikat. Yang diukur adalah kaidah yang kamu pakai untuk berpikir dan bertindak, bukan kesempurnaan.

Apakah belajar dari video dan konten singkat sia-sia?

Tidak sia-sia, tapi menurut pembedaan An-Nabhani ia baru menambah informasi. Informasi menjadi mafhum ketika kamu menangkap kenyataannya dan membenarkannya, lalu itu tampak pada amalmu.

Apakah Al-Albani menolak berjamaah?

Tidak. Dalam teks yang aku baca ia mewajibkan kerja bersama para ahli. Yang ia tolak adalah baiat, ketaatan yang mengikat, dan kepartaian, dan ia mendahulukan pembinaan sebelum pengelompokan.

Apakah tulisan ini ajakan bergabung ke suatu kelompok?

Bukan. Halaqah dan partai disebut karena itu isi teksnya, bukan anjuran. Kamu diajak membaca sumber primer dan menimbang sendiri.

Kalau membentuk satu orang saja tidak punya jalan pintas, menurutmu mana yang lebih kamu butuhkan sekarang: pembinaan yang membuat dirimu baik, atau pembinaan yang membuatmu tumbuh bersama orang lain, dan dalil apa yang membuatmu memilihnya?

Penulis
Raja Baya

Menulis dari bayang. Pesta sejati ada di hati yang sadar.

Tulisan ini adalah eksplorasi pemikiran dan diskusi akademis-keagamaan. Tidak bertujuan rekrutmen organisasi apapun. Pembaca diharapkan berpikir kritis dan merujuk sumber primer.
← Kembali ke semua artikel