Di Solo Leveling, ada pintu yang tampak seperti dungeon biasa: gerbang logam yang kelihatan sederhana, level rendah, tidak mengancam siapa pun. Hawar membukanya dengan santai, bahkan sedikit meremehkan. Tapi begitu masuk, ia menemukan dirinya di tempat yang sama sekali berbeda: ruang bawah tanah ganda yang penuh raja iblis, berdarah-darah, dan nyaris tidak bisa keluar hidup-hidup. Pelajaran dari Double Dungeon itu sederhana: jangan menilai sesuatu dari kulit luarnya, karena yang paling menyesatkan adalah pintu yang tampak paling tidak berbahaya.
Banyak anak muda Indonesia, termasuk kamu mungkin, sedang berdiri di depan pintu yang mirip. Kapitalisme sudah terbukti mengecewakan: ketimpangan menganga, krisis berulang, dan janji kemakmuran hanya dinikmati segelintir. Lalu muncul sosialisme, tampak adil di luar, tampak berpihak pada yang lemah, tampak masuk akal. Dan karena keadilan memang fitrah yang kamu cari, pintu itu menggiurkan. Tapi sebelum kamu masuk, tulisan ini mengajakmu membuka gerbangnya lebih dulu dan melihat apa yang tersimpan di dalam: materialisme yang menolak Penciptamu.
Keadilan yang Kamu Cari Itu Sah, Yang Harus Kamu Uji Cuma Pintunya
Pertama, mari kita jujur dua arah, karena kejujuran adalah syarat tabayyun. Keinginanmu pada keadilan itu benar dan fitrah. Kapitalisme memang gagal total dalam hal ini: ia menempatkan kemanfaatan sebagai tolok ukur, menjadikan manusia pemilik dan komoditas sekaligus, dan menyerahkan keadilan pada kekuatan pasar yang tidak pernah berpihak pada yang lemah. Mengkritik kapitalisme bukan kesalahan; ia bagian dari cara berpikir yang sehat. Bahkan para pengkaji ideologi menempatkan kapitalisme dan sosialisme sejajar sebagai dua mabda yang sama-sama harus diuji, bukan cuma satu.
Tapi di sinilah pintunya harus dibuka. Kritik pada kapitalisme tidak otomatis membuat sosialisme benar. Dua-duanya harus diuji dari akidahnya, sebagaimana diuraikan di siapa yang memimpin pikiranmu sebelumnya: dari mana sumber peraturannya, apa tolok ukurnya, dan bagaimana ia memandang manusia. Kapitalisme gagal di sisi fitrah karena memisahkan agama dari kehidupan. Lalu apa isi sosialisme di balik tampilan adilnya? Materialisme: keyakinan bahwa kenyataan pada dasarnya materi, bahwa kesadaran manusia lahir dari materi, dan bahwa tidak ada Pencipta di balik alam ini.
Inilah yang jarang dibicarakan ketika anak muda berdiskusi soal sosialisme. Mereka melihat programnya: kesehatan gratis, upah adil, akses tanpa kelas. Mereka jarang membuka akidahnya: pandangan bahwa manusia tidak lebih dari materi yang diatur oleh dialektika, dan bahwa agama adalah candu yang menghambat. Padahal program hanyalah peraturan yang lahir dari akidah. Logika mabda yang sudah kita pahami: akidah menentukan peraturan. Menerima program sosialisme berarti menerima akidah yang melahirkannya, sadar atau tidak. Dan akidah itu, kata para pengkaji, adalah pemikiran yang berlawanan dengan fitrah manusia, karena mengingkari naluri beragama yang Allah tanamkan.
Terhadap Epistemologinya: Materi Tidak Mendahului Pemikiran
Salah satu klaim terpenting materialisme adalah seperti ini: materi mendahului pemikiran. Alam materi berevolusi, kesadaran muncul darinya, dan pemikiran manusia hanyalah pantulan dari materi yang ada. Kalau klaim ini benar, akidah materialisme punya dasar. Kalau salah, seluruh bangunannya goyah. Maka para pengkaji membantahnya dari dua sisi, dan bantahan ini bisa kamu uji sendiri dengan akalmu.
Bantahan pertama: tidak ada “pantulan” antara materi dan otak. Yang terjadi bukan materi yang dipantulkan ke dalam otak, melainkan pencerapan melalui panca indera: kamu mengindera fakta, dan fakta itu sampai ke otak. Ini bukan refleksi pasif seperti cermin; ia proses aktif yang butuh pengindera. Kalau sekadar pantulan, maka setiap orang yang melihat fakta yang sama akan berpikir yang sama, padahal kenyataannya tidak. Bantahan kedua: penginderaan saja tidak cukup melahirkan pemikiran. Kamu butuh dua unsur sekaligus: pencerapan fakta melalui indera, ditambah informasi terdahulu yang menafsirkan fakta itu. Tanpa informasi pembanding, mata yang melihat tidak pernah benar-benar berpikir; ia cuma melihat. Dua unsur ini, bukan materi semata, yang membentuk pemikiran.
Perhatikan apa artinya: kalau pemikiran manusia tidak lahir dari materi, maka manusia tidak bisa direduksi jadi materi. Ia punya dimensi yang tidak bisa dijelaskan oleh dialektika. Dan di situlah naluri beragama menemukan tempatnya: ia tidak lahir dari evolusi materi, ia bawaan dari Pencipta. Materialisme yang mengingkari ini bukan akal yang jernih, melainkan akidah yang menolak sebagian realitas manusia untuk mempertahankan bangunannya. Dan ketika sebuah ideologi harus memotong realitas agar teorinya tetap berdiri, ia bukan lagi penjelasan, ia sudah jadi pembelaan.
Mencampur Sosialisme dan Islam: Bukan Islam, Bukan Sosialisme
Mungkin kamu berpikir: kalau begitu, ambil program sosialismenya saja, buang materialisme-nya, lalu isi dengan nilai-nilai Islam. Bukankah keadilan memang ajaran Islam? Tampak cerdas, tapi inilah yang paling berbahaya, dan para pengkaji sudah menegaskannya dengan keras. Dengarkan apa yang dikatakan kitab Nizhamul Islam dengan gamblang:
“Adalah sangat berbahaya jika kita mengambil nasionalisme dan peraturan sosialis. Sosialisme tidak dapat diambil secara terpisah dari ide dasarnya yaitu materialisme, karena tidak akan menghasilkan sesuatu dan tidak pula mempunyai pengaruh. Kita juga tidak boleh mengambil sosialisme dari satu segi, sementara aspek kerohaniannya dari Islam. Sikap seperti ini, berarti kita tidak mengambil Islam, juga tidak sosialisme.”
Renungkan kalimat terakhir itu: kita tidak mengambil Islam, juga tidak sosialisme. Pencampuran tidak menghasilkan satu dari keduanya; ia menghasilkan sesuatu yang tidak punya ruh. Sebab peraturan sosialisme tidak bisa lepas dari akidah yang melahirkannya, dan akidah itu materialisme. Mencabut peraturannya dari akidahnya sama seperti mengambil tubuh tanpa ruh: ia tidak hidup, tidak berpengaruh, dan menyesatkan yang memegangnya. Analoginya persis yang sudah kamu pelajari di dua kubu satu akar: dua ideologi yang kelihatan bermusuhan ternyata lahir dari garis yang sama, dan Islam tidak bisa dicampur dengan salah satunya tanpa kehilangan dirinya.
Al-Qur’an sendiri sudah memberi peringatan paling tegas tentang penyakit mengambil sebagian dan menolak sebagian. Ini bukan sekadar nasihat moral; ia vonis tentang akibatnya:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ
A fa tu'minūna bi ba'dil-kitābi wa takfurūna bi ba'd, fa mā jazā'u man yaf'alu dzālika minkum illā khizyun fil-ḥayātid-dunyā, wa yaumal-qiyāmati yuraddūna ilā asyaddil-'adzāb.
"Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat."
Konteks ayat ini tentang Bani Israil yang mengamalkan sebagian Taurat dan membuang sebagian lainnya. Tapi prinsipnya universal: mengambil sebagian wahyu dan membuang sebagian adalah jalan kenistaan. Membawa ayat ini ke zaman kita: mengambil keadilan sosial dari Islam, lalu membuang hukum-hukum ekonomi Islam, dan mengisi ruangnya dengan program sosialisme, persis penyakit yang sama. Kamu tidak menjadi lebih Islami, dan kamu juga tidak menjadi sosialis sejati; kamu berdiri di tengah tanpa ruh dari dua-duanya.
Pencampuran tidak menghasilkan satu dari keduanya; ia menghasilkan sesuatu yang tidak punya ruh.
Fitrah yang Tidak Bisa Kamu Tipu
Ada satu fakta psikologis yang jarang dimasukkan dalam perdebatan ini: naluri beragama tidak bisa dimusnahkan, ia hanya bisa dialihkan. Materialisme mengira bisa membuang agama dari manusia, tapi yang terjadi bukan agama hilang; yang terjadi manusia mengalihkan pengkultusannya ke ideologi dan tokoh. Lihat bagaimana rezim-rezim komunis di berbagai negeri membangun kultus pemimpin yang begitu kaku, sampai-sampai pengikutnya berbaris dan berorasi dengan semangat yang mirip ritual keagamaan. Itu bukan kebetulan; itu naluri beragama yang dipaksa menumpang di tempat yang salah. Ia tidak mati, ia menyamar.
Islam tidak perlu menyamar. Ia memberi naluri itu rumahnya yang asli: pengakuan bahwa manusia diciptakan oleh Pencipta, bahwa keadilan adalah perintah-Nya, dan bahwa seluruh hidup diatur oleh hukum-Nya. Inilah yang membuat Islam sesuai fitrah, sedangkan sosialisme dan kapitalisme sama-sama memaksanya menumpang. Perbandingan lengkapnya sudah kamu lihat di tulisan sebelumnya, dan pembedaan akidah dua kubu itu di bagian dua kubu satu akar serta sekularisme di Indonesia memberi gambaran seberapa dalam jurang antara mabda manusia dan mabda wahyu.
Maka pertanyaannya bukan “kapitalisme atau sosialisme mana yang lebih adil”. Pertanyaan yang lebih jujur dan lebih penting adalah: maukah kamu dipimpin oleh akidah yang mengingkari Penciptamu demi program yang tampak adil? Sebab itulah harga yang diminta di balik pintu itu. Dan karena keadilan sejati sudah ada di rumahmu sendiri, dibangun di atas wahyu yang tidak pernah gagal menepati janji, tidak ada alasan untuk menukarnya dengan materialisme yang bahkan tidak bisa menjelaskan fitrahmu sendiri. Jadi, kalau kamu selama ini ikut menyuarakan keadilan sosial, menurutmu apakah yang kamu kejar itu program yang adil di luar, atau keadilan yang benar-benar berpihak pada fitrahmu sampai ke akar?
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Islam melarang mengkritik kapitalisme?
Tidak. Mengkritik kapitalisme justru bagian dari tabayyun yang sehat: kapitalisme menempatkan kemanfaatan sebagai tolok ukur dan gagal di sisi fitrah karena memisahkan agama dari kehidupan. Yang ditolak bukan kritiknya, melainkan menjadikan sosialisme sebagai satu-satunya alternatif tanpa menguji akidahnya, karena sosialisme juga lahir dari akidah yang menolak wahyu.
Kenapa sosialisme dan Islam tidak bisa dicampur?
Karena peraturan tidak bisa dipisah dari akidah yang melahirkannya. Program sosialisme lahir dari materialisme, dan materialisme menolak Pencipta. Mengambil program sosialisme sambil mengklaim nilai Islam sama saja mengambil tubuh tanpa ruh: bukan Islam, bukan sosialisme. Ini ditegaskan gamblang dalam Nizhamul Islam dan diingatkan prinsipnya oleh QS Al-Baqarah: 85 tentang mencampur sebagian kitab dan menolak sebagian.
Apa itu materialisme dalam sosialisme?
Materialisme adalah keyakinan bahwa kenyataan pada dasarnya materi, kesadaran lahir dari materi, dan tidak ada Pencipta di balik alam. Ia menolak dimensi ruhani manusia dan memandang agama sebagai candu. Inilah akidah yang melahirkan program-program sosialisme, dan itulah sebabnya program tersebut tidak bisa diambil terpisah dari akidahnya.
Apakah benar materi mendahului pemikiran?
Tidak, menurut bantahan yang bisa kamu uji sendiri. Pemikiran lahir dari dua unsur: pencerapan fakta melalui panca indera, ditambah informasi terdahulu yang menafsirkannya. Tidak ada “pantulan” materi ke otak. Kalau pemikiran hanya pantulan materi, setiap orang yang melihat fakta sama akan berpikir sama, padahal tidak. Manusia tidak bisa direduksi jadi materi; ia punya dimensi yang hanya dijelaskan oleh Pencipta.
Kalau kapitalisme gagal, apa alternatifnya?
Pertanyaan yang benar bukan memilih antara dua kegagalan. Islam adalah mabda ketiga yang berdiri sendiri: sumber peraturannya wahyu, tolok ukurnya halal-haram, dan ia sesuai fitrah manusia. Solusinya bukan meniru program sosialisme dengan bumbu Islam, melainkan mengambil Islam secara utuh, akidah dan peraturannya. Ini dibahas lebih lanjut di episode penutup seri ini, tentang satu-satunya qiyadah fikriyah yang sesuai fitrah.