Di puncak pertarungannya melawan Kaido, Luffy menabuh genderang pembebasan, Gear 5. Bukan senjata baru yang tiba-tiba muncul, tapi sesuatu yang lebih sederhana justru yang membuat penguasa Wano itu untuk pertama kalinya terlihat goyah: rakyat yang selama ini tertindas mulai percaya bahwa melawan itu mungkin. Kekuatan Kaido tidak berubah malam itu. Yang berubah adalah keyakinan orang-orang di sekelilingnya.
Ada pola yang sama persis di dunia nyata, jauh dari cerita bajak laut. Dua penguasa, dua benua berbeda, jatuh dalam rentang waktu kurang dari setahun, dengan cara yang nyaris identik.
Dua Penguasa yang Kabur dalam Semalam
Desember 2024, ketika pemberontak bergerak cepat merebut Damaskus, Bassar al-Asad, yang sudah memerintah Suriah lebih dari dua dekade dengan tangan besi, tidak bertahan sampai titik darah penghabisan. Ia kabur ke Rusia, negara sekutunya, begitu Damaskus jatuh ke tangan pemberontak.
Kurang dari setahun sebelumnya, Agustus 2024, pola yang nyaris sama terjadi di Bangladesh. Perdana Menteri Sheikh Hasina, yang memerintah dengan kendali ketat selama bertahun-tahun, kabur ke India ketika gelombang protes rakyat tak lagi bisa dibendung aparat.
Dua kejadian ini bukan kebetulan yang berdiri sendiri. Polanya sama: penguasa yang tampil paling gagah di podium, paling percaya diri di depan kamera, ternyata yang paling cepat mengangkat kaki begitu rakyatnya benar-benar bergerak bersama.
Pola yang Sama, Empat Belas Abad Lalu
Pola ini bukan cuma terjadi dua kali di abad ke-21. Ia sudah tercatat jauh sebelum ada kamera dan media sosial yang merekamnya.
Tahun ke-5 Hijriah, koalisi terbesar yang pernah dihimpun untuk menyerang Madinah, sekitar sepuluh ribu orang dari Quraisy dan sekutu-sekutunya, mengepung kota itu dalam Perang Khandaq. Jumlah mereka jauh melampaui pasukan Muslim yang bertahan di balik parit. Tapi Al-Qur’an sendiri menegaskan siapa yang sesungguhnya membubarkan koalisi itu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا
Fa arsalnā 'alayhim rīḥan wa junūdan lam tarawhā.
"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
Angin, dan sesuatu yang tidak terlihat mata manusia. Kecurigaan yang ditanam di antara sekutu-sekutu koalisi cuma sarana; sebab yang disebut lebih dulu oleh ayat itu sendiri adalah pertolongan Allah. Mereka mundur dalam semalam tanpa hasil apa pun:
وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا ۚ وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا
Wa radda-llāhu-lladzīna kafarū bighayẓihim lam yanālū khayrā.
"Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang mereka penuh memendam kejengkelan, karena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apa pun. Cukuplah Allah (yang menolong) menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan. Dan Allah Mahakuat, Mahaperkasa."
Tiga tahun kemudian, giliran Quraisy sendiri yang runtuh. Mereka sudah menindas dakwah Islam sejak generasi pertama, lebih dari dua dekade lamanya. Ketika sepuluh ribu Muslim yang bersatu bergerak ke Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah, kota itu nyaris menyerah tanpa perlawanan berarti. Abu Sufyan, tokoh utama yang dulu memimpin perlawanan terhadap Nabi ﷺ, tunduk sebelum pasukan itu memasuki kota. Al-Qur’an menyebut pola ini bukan kebetulan yang berdiri sendiri:
وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوَلَّوُا الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلُ ۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
Sunnatallāhi-llatī qad khalat min qabl, wa lan tajida lisunnatillāhi tabdīlā.
"Dan sekiranya orang-orang yang kafir itu memerangi kamu, pastilah mereka akan berbalik melarikan diri, dan mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong. (Demikianlah) hukum Allah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada hukum Allah."
Sunnatullah, kata ayat itu sendiri. Bukan pola yang cuma kebetulan berlaku di abad ke-21 pada Asad dan Hasina, tapi hukum yang sudah berjalan jauh sebelum keduanya lahir, dan akan terus berjalan setelah mereka jadi catatan sejarah.
Bedanya, kekuasaan Quraisy tidak lari ke negara lain seperti Asad dan Hasina. Ia larut lewat amnesti umum, dan orang-orang yang dulu menindas justru masuk Islam berbondong-bondong (QS An-Nasr [110]: 1-2). Karena yang menggantikannya bukan rezim baru dengan wajah berbeda, tapi ikatan yang sama sekali lain jenisnya.
Yang Sesungguhnya Ditakuti
Ini yang perlu direnungkan lebih dalam: kenapa penguasa yang terlihat tak tergoyahkan justru runtuh secepat itu? Bukan karena rakyat tiba-tiba punya senjata yang lebih canggih dari aparat bersenjata lengkap. Yang membuat penguasa zalim gentar bukan kekuatan fisik tandingan, tapi rakyat yang sadar, terorganisir, dan tidak lagi bisa dibungkam dengan cara lama.
Pengamatan itu benar sejauh itu. Tapi berhenti di situ saja belum cukup. Sadar dan terorganisir seperti apa? Diikat oleh apa? Kalau jawabannya cuma “kumpulkan orang sebanyak mungkin di satu titik”, sejarah juga mencatat banyak kerumunan besar yang bubar begitu tekanan mereda, karena yang menyatukan mereka cuma momentum sesaat, bukan sesuatu yang lebih dalam. Sebelum menjawabnya untuk orang lain, cek dulu barisanmu sendiri: adakah sesuatu yang benar-benar mengikatmu dengan orang di sebelahmu, atau cuma kemarahan yang sama pada hari yang sama?
Batas Taat yang Sering Dilupakan
Di sinilah Islam menawarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar “berkumpul”. Islam memang memerintahkan taat kepada pemimpin, tapi ketaatan itu punya batas yang jelas sejak awal, bukan ketaatan tanpa syarat.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍۢ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ
...fa'in tanāza'tum fī syai'in fa ruddūhu ilallāhi war-rasūl.
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya)."
Perhatikan strukturnya. Taat kepada ulil amri disebut, tapi langsung disambung dengan syarat: kalau ada perselisihan, kembalikan ke Allah dan Rasul, bukan ke selera penguasa. Saya sudah membahas lebih rinci soal batas taat ini: ketaatan yang diperintahkan Islam bukan ketaatan buta, ia terikat pada rujukan yang sama untuk semua orang, termasuk penguasanya sendiri. Kalau selama ini kamu menganggap taat kepada pemimpin itu otomatis dan tanpa syarat, ayat ini menegur asumsi itu lebih dulu, sebelum menegur penguasanya.
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًۭا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًۭا
Fa lā wa rabbika lā yu'minūna ḥattā yuḥakkimūka fīmā syajara bainahum.
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."
Rujukan hukum yang sama untuk semua pihak inilah yang jadi standar bersama umat, standar yang tidak bergantung pada siapa yang sedang berkuasa. Rujukan yang sama ini juga yang sudah saya bahas soal dasar dan batas taat kepada pemimpin: begitu penguasa keluar dari rujukan itu, ketaatan otomatis kehilangan dasarnya. Ukuran yang sama berlaku untukmu juga: kalau kamu menuntut penguasa tunduk pada rujukan itu, tuntutan yang sama berlaku ke keputusanmu sendiri.
Amanah yang Dipertanggungjawabkan
Islam juga tidak membiarkan jabatan kekuasaan jadi ruang bebas tanggung jawab. Ada ancaman keras yang ditujukan langsung kepada penguasa yang berkhianat dari amanahnya. Dalam riwayat yang disepakati Bukhari dan Muslim, dari sahabat Ma’qil bin Yasar, Nabi ﷺ bersabda bahwa tidak ada seorang hamba yang diberi amanah memimpin rakyat lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya.
Ancaman itu bukan basa-basi retorika. Dalam riwayat lain, ketika sahabat Abu Dzar meminta diberi jabatan, Nabi ﷺ justru menolak dan mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah, dan pada hari kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban di dalamnya. Ancaman ini tidak berhenti di istana. Amanah versi kecil ada di tanganmu juga, di rumah, di kantor, di komunitas, dan pertanggungjawabannya memakai skala yang sama.
Penguasa yang gagah di mimbar dan penguasa yang amanah bukan dua hal yang otomatis sama. Islam menaruh ancaman paling keras justru untuk yang pertama.
Amanah ini yang saya sebut sebagai ri’ayah, tanggung jawab mengurus rakyat, bukan sekadar berkuasa atas mereka. Penguasa yang menghindar dari amanah ini, sekuat apa pun pencitraannya di depan publik, sedang berjalan menuju kehinaan yang sama seperti yang diperingatkan dalam dua riwayat di atas.
Bukan Sebaran Simpul, Tapi Ikatan
Kembali ke pertanyaan di awal: kalau bukan sekadar kerumunan atau jaringan yang membuat penguasa zalim gentar, lalu apa?
Jawabannya bukan jumlah orang yang berkumpul, tapi apa yang mengikat mereka. Kerumunan tanpa ikatan yang sama mudah pecah begitu ada tekanan atau iming-iming. Pertanyaan yang lebih jujur ditujukan ke dirimu sendiri: bukan berapa banyak orang yang sependapat denganmu hari ini, tapi apakah ikatan itu masih berdiri begitu tekanannya reda. Yang membuat sebuah kesadaran bertahan dan tidak gampang dipatahkan adalah ketika ia berdiri di atas satu aqidah yang sama, satu rujukan hukum yang sama, dan kesabaran yang bukan berarti diam pasrah. Sabar dalam Islam bukan mati rasa terhadap kezaliman, dan qana’ah juga bukan alasan untuk pasrah pada kezaliman yang terus berulang. Keduanya adalah disiplin batin yang justru menjaga arah perjuangan tetap lurus, bukan alasan untuk diam saja.
Ikatan aqidah inilah yang membuat amar ma’ruf nahi munkar, menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran, punya standar yang sama untuk semua orang yang meyakininya, tidak tergantung suasana hati atau momentum sesaat. Rakyat yang terikat seperti ini tidak butuh menunggu satu peristiwa besar untuk bersuara, karena standarnya sudah jelas sejak awal.
Satu Aqidah, Satu Rujukan, Satu Amanah
Penguasa zalim takut pada rakyat yang berpikir dan bersatu. Itu benar, dan sejarah Asad maupun Hasina membuktikannya dalam hitungan jam, bukan tahun. Tapi Islam sudah memberi cara bersatu itu sejak awal, jauh sebelum dunia modern menemukan istilah “jaringan simpul” atau “kesadaran kolektif”: satu aqidah yang mengikat, satu rujukan hukum yang berlaku untuk semua pihak, dan satu amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, bukan di hadapan opini publik semata.
Genderang yang ditabuh Luffy di Wano bukan cuma soal kekuatan pukulan yang lebih besar. Ia soal keyakinan yang menular ke orang-orang di sekelilingnya. Pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya diuntungkan dari sistem yang berjalan hari ini adalah kelanjutan yang wajar dari muhasabah ini. Kalau penguasa memang takut pada rakyat yang sadar dan terikat, menurutmu, ikatan seperti apa yang hari ini benar-benar sanggup membuat penguasa zalim gentar?