BB-RankMenguji · LEVEL
Bedah 23 Agustus 2026 2 mnt baca

Eks-Jubir HTI di Panggung Dakwah Publik: Apa Artinya?

Ismail Yusanto, eks-Sekjen dan jubir HTI, tampil sebagai pembicara acara Maulid publik 25 Agustus 2026. Sembilan tahun setelah HTI dibubarkan, apa artinya kemunculan ini?

Eks-Jubir HTI di Panggung Dakwah Publik: Apa Artinya?
Daftar Isi

Selasa, 25 Agustus 2026, One Ummah TV menggelar acara bertajuk “Qudwah” dalam rangka Maulid Nabi 1448H, mengangkat tema meneladani Rasulullah di tengah kebisingan informasi zaman ini. Di antara lima pembicara yang diundang, satu nama menonjol bukan karena kontroversinya hari ini, tapi karena rekam jejaknya sembilan tahun lalu: Ismail Yusanto.

Bagi yang mengikuti dinamika ormas Islam di Indonesia, nama ini bukan asing. Ismail Yusanto adalah Sekretaris Umum sekaligus juru bicara resmi Hizbut Tahrir Indonesia, sampai organisasi itu resmi dibubarkan pemerintah pada 2017 lewat Perppu Ormas. Kronologi lengkapnya sudah dibahas terpisah, dan alasan pembubarannya juga sudah dibedah tuntas.

Poster resmi acara Qudwah oleh One Ummah TV, Selasa 25 Agustus 2026, menampilkan lima pembicara termasuk Ust. Ismail Yusanto, Cerita Ihsan, Agung Wisnuwardana, Aab El Karimi, dan Bang Pay
Poster resmi acara "Qudwah", dipublikasikan One Ummah TV.

Kemunculan yang Tidak Bersembunyi

Yang menarik dari kasus ini bukan soal kontroversi lamanya, melainkan pola yang terjadi setelahnya. Sembilan tahun pasca pembubaran, Ismail Yusanto tidak menghilang dari ruang publik. Ia tetap tampil di berbagai forum, ceramah, dan sekarang, acara media Islam berskala nasional, tanpa membawa embel-embel organisasi yang sudah dicabut status hukumnya.

Ini bukan kemunculan diam-diam. Acaranya diproduksi terbuka oleh stasiun televisi dakwah, posternya disebar luas, dan pendaftarannya publik. Sejauh ini, kemunculan semacam ini tidak pernah berujung pada tindakan hukum terhadap dirinya secara pribadi. Ini menunjukkan satu hal: pembubaran badan hukum sebuah organisasi tidak otomatis mencabut hak individu bekas pengurusnya untuk tampil dan bicara di ruang publik, selama tidak sedang menjalankan struktur organisasi yang sudah dibubarkan itu sendiri.

Bukan Berarti Tanpa Pertanyaan

Bukan berarti pertanyaan soal ini selesai begitu saja. Publik yang kritis wajar bertanya: dengan sudut pandang apa seorang eks-Sekjen HTI berbicara soal keteladanan Rasulullah hari ini? Apakah kerangka berpikirnya soal kepemimpinan dan sistem masih membawa warna lamanya, atau sudah bergeser? Ini bukan pertanyaan untuk divonis dari awal, tapi untuk ditimbang setelah mendengar langsung apa yang disampaikan.

Fenomena tokoh eks-ormas terlarang yang tetap aktif di ruang dakwah publik ini sendiri layak dicatat, terlepas dari sikap orang terhadap HTI. Ia menunjukkan batas nyata antara pembubaran organisasi dan pembatasan individu, sebuah garis yang sering kabur dalam persepsi publik.

Saya Akan Hadir

Saya berencana menghadiri langsung acara ini untuk melihat apa yang sebenarnya disampaikan, bukan sekadar menilai dari poster dan daftar nama pembicara. Liputan dan analisis lebih lanjut akan menyusul setelah acara berlangsung.

Informasi acara dan pendaftaran tersedia di situs resmi penyelenggara, One Ummah TV: https://qudwah.space, untuk yang ingin menyaksikan sendiri dan menarik kesimpulannya masing-masing.

Kalau kamu ingin memahami lebih dulu siapa Hizbut Tahrir Indonesia secara utuh sebelum menilai kemunculan tokohnya hari ini, HTI Itu Apa adalah titik awal yang baik.

Penulis
Raja Baya

Menulis dari bayang. Pesta sejati ada di hati yang sadar.

Tulisan ini adalah eksplorasi pemikiran dan diskusi akademis-keagamaan. Tidak bertujuan rekrutmen organisasi apapun. Pembaca diharapkan berpikir kritis dan merujuk sumber primer.
← Kembali ke semua artikel