Di One Piece, Luffy pernah naik ke atap Onigashima bersama dua kapten saingannya. Sepanjang jalan mereka bertengkar soal siapa yang maju duluan, padahal lawan yang menunggu di atas sama. Kamu mungkin pernah melihat hal serupa di kolom komentar: dua kubu yang tujuannya berdekatan, tapi lebih sibuk saling memberi julukan.
Ringkasan 60 detik. Al-Albani mengkritik Hizbut Tahrir dengan kata yang tajam, dan menurut kaidah HT sendiri pendapat yang dipegang Al-Albani soal hadits ahad juga keliru. Tapi kalau kamu membaca teks keduanya, ada adab yang jarang ikut dikutip: Al-Albani mendoakan An-Nabhani di kalimat kritiknya, dan HT menulis bahwa pemikirannya mungkin salah. Isi kritiknya sudah kita uji di episode sebelumnya, dan kesimpulannya jelas. Episode penutup ini bukan soal isi, tetapi soal cara: ia mengajakmu memeriksa caramu sendiri memakai label.
Episode-episode sebelumnya menimbang isi: dari kewajiban yang disepakati sampai cara membentuk kepribadian. Episode ini menimbang cara.
Label Terbang ke Dua Arah
Al-Albani menyebut Hizbut Tahrir secara langsung dalam ceramahnya. Catatan pertamanya: mereka “تأثروا بالمعتزلة في منطلقهم في طريق الإيمان”, terpengaruh Mu’tazilah pada titik tolak mereka dalam jalan menuju iman (Jami’ Turats Al-Albani fi al-‘Aqidah, Shamela 36190, ص224). Dalam soal hadits ahad, ia menyebut mereka pengikut Mu’tazilah “في هذه العقيدة”, pada kaidah itu (ص227, dibahas di episode tentang hadits ahad).
Arah sebaliknya juga ada, walau tanpa menyebut nama. HT menetapkan bahwa akidah menuntut dalil yang pasti (Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz 1, hlm. 191). Dengan kaidah itu, pendapat yang menjadikan hadits ahad sebagai dasar akidah, yaitu pendapat yang dipegang Al-Albani, dinilai keliru. Jadi dua pihak saling menilai keliru di wilayah ushul, dan itu fakta yang tidak perlu kamu tutupi.
Al-Albani sendiri juga dilabeli. Abdullah bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari, ulama hadits dari Maroko, menulis bantahan yang judulnya saja sudah memuat label: Al-Qaul al-Muqni’ fi ar-Radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi’, yang artinya kurang lebih “ucapan yang memuaskan untuk membantah Al-Albani si pelaku bid’ah”. Isi kitab itu belum aku baca, jadi aku hanya mencatat judulnya. Kamu bisa melihat polanya: label terbang ke segala arah, dan tiap label tetap harus diuji dengan dalilnya.
Cara Al-Albani Mengkritik
Sekarang perhatikan kalimat lengkapnya, bukan hanya labelnya:
تقى الدين النبهاني رحمه الله وأنا لقيته أكثر من مرة وأنا عارف به تماماً، وعارف بما عليه حزب التحرير كأحسن ما تكون المعرفة؛ ولذلك فأنا أتكلم إن شاء الله عن علم بما عليه تقوم دعوتهم
"Taqiyuddin An-Nabhani, semoga Allah merahmatinya. Aku bertemu dengannya lebih dari sekali dan aku mengenalnya betul, dan aku mengenal apa yang menjadi pegangan Hizbut Tahrir sebaik-baik pengenalan. Karena itu aku berbicara, insya Allah, dengan ilmu tentang apa yang menjadi dasar dakwah mereka."
Ada tiga hal di sini yang bisa kamu tiru, siapa pun tokoh yang kamu ikuti:
- Ia mendoakan orang yang ia kritik. Kata “رحمه الله” berdiri tepat di tengah kritiknya.
- Ia berbicara setelah bertemu dan membaca. Menurut pengakuannya, ia bertemu An-Nabhani lebih dari sekali dan merujuk kitab mereka. Ia tidak menilai dari potongan.
- Ia memisahkan istilah dari akibatnya. Tentang pembagian qath’i dan zhanni ia berkata “لا نناقش في هذا الاصطلاح”, kami tidak memperdebatkan istilah ini, sebab setiap kaum boleh membuat istilahnya (ص226). Yang ia persoalkan adalah kesimpulan yang dibangun di atasnya.
Supaya adil: cara yang beradab tidak otomatis membuat isi kritiknya terbukti. Di episode yang menguji empat klaimnya kamu sudah melihat bahwa kesimpulan keempat alasannya keliru, dan soal hadits ahad dalil HT lebih kuat. Jadi adabnya patut kamu tiru, tapi isinya tetap harus kamu uji. Pengakuan “aku mengenal mereka sebaik-baiknya” juga pengakuannya sendiri, dan di ceramah itu ia tidak mengutip satu kalimat pun dari kitab HT, jadi kamu yang menimbang seberapa tercermin pengenalan itu dalam alasan-alasannya.
Cermin dari Teks HT
Hizbut Tahrir menulis tentang pemikiran yang mereka adopsi bahwa mereka menganggapnya “صحيحة وفيها قابلية الخطأ”, benar dan mengandung kemungkinan salah (Manhaj Hizb at-Tahrir fi at-Taghyir, bagian “Qiyam Hizb at-Tahrir li-Iqamat al-Khilafah”, edisi Maktabah mulai hlm. 28). Mereka juga menulis bahwa hasil ijtihad yang sah adalah hukum syar’i bagi yang menyimpulkannya dan bagi yang mengikutinya (Al-Fikr al-Islami, hlm. 42), sehingga ijtihad lain yang sah tidak otomatis batil.
Dua catatan agar setara. Pengakuan itu berlaku pada hukum yang diijtihadkan, sedangkan untuk akidah HT menuntut kepastian, jadi HT pun tidak menganggap ringan perbedaan soal hadits ahad. Dan kalau sebuah kelompok menulis sendiri bahwa pemikirannya mungkin salah, kamu yang mengikutinya tidak punya alasan memperlakukannya sebagai sesuatu yang tidak boleh diuji.
Cermin dari Al-Albani untuk Pengikut Tokoh Mana Pun
Dalam Al-Hadits Hujjah bi Nafsihi (Shamela 7607), Al-Albani mengkritik ta’assub pada mazhab. Ia mengutip semboyan yang beredar di sebagian pengikut mazhab: “الحق ما نحن عليه والباطل ما عليه خصومنا”, kebenaran adalah apa yang kami pegang dan kebatilan adalah apa yang dipegang lawan kami. Ia menolaknya dengan dua alasan: semboyan itu menyelisihi nash yang memerintahkan orang berbicara hanya dengan ilmu, dan tidak pernah diucapkan oleh seorang pun dari para imam yang diikuti (ص79). Lalu ia menukil Ibnu Al-Qayyim tentang kelompok-kelompok yang membela tokohnya dan mencela yang berbeda:
"كتبهم" و "كتبنا" و "أئمتهم" وأئمتنا و "مذهبهم" و "مذهبنا" هذا والنبي واحد والقرآن واحد والرب واحد
"(Mereka berkata:) 'kitab mereka' dan 'kitab kami', 'imam mereka' dan imam kami, 'mazhab mereka' dan 'mazhab kami'. Padahal Nabinya satu, Al-Qur'annya satu, dan Tuhannya satu."
Sasaran Al-Albani di halaman itu adalah taklid mazhab. Menerapkannya pada pengikut tokoh mana pun, termasuk pengikut Al-Albani dan pengikut An-Nabhani, adalah penerapanku, bukan ucapannya. Tapi coba ganti kata “mazhab” dengan nama kelompokmu, lalu baca lagi kalimat itu pelan-pelan.
Yang Dilarang Ayat
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَـٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَـٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Aku hanya membaca terjemahnya, tidak menafsirkan. Terjemah itu menyebut larangan saling memanggil dengan gelar yang buruk, dan alasannya: boleh jadi yang diolok lebih baik. Yang berikut ini penalaranku sendiri, bukan tafsir: kritik ilmiah atas sebuah pendapat, dengan dalil dan nomor halaman, berbeda dari julukan yang dilempar untuk menjatuhkan orang. Dua tokoh dalam seri ini melakukan yang pertama. Yang sering sampai ke linimasamu adalah yang kedua.
Tiga Pertanyaan Sebelum Kamu Melabeli
Menilai seseorang atau kelompok adalah perbuatan, dan perbuatan butuh dasar. Sebelum kamu meneruskan sebuah label, coba tiga pertanyaan ini:
- Sudahkah kamu membaca teks pihak yang kamu labeli, atau baru potongannya? Kalau baru potongan, kamu sedang meneruskan penilaian orang lain.
- Yang kamu nilai itu pendapatnya atau orangnya? Pendapat bisa ditimbang dengan Pilar Kebenaran. Orang bukan bahan timbangan, dan ulama tidak maksum dari kedua sisi.
- Kalau label itu dilempar kepadamu dengan bukti setipis itu, apakah kamu menerimanya? Arsip ini pernah menguji satu label dengan cara itu di HTI Dicap Khawarij.
Adab tidak berarti semua pendapat sama kuat. Kaidah di episode pertama tetap berlaku: yang rajih dicari lewat dalil, lalu dipegang. Adab hanya memastikan kamu sampai ke sana tanpa merusak ukhuwah di sepanjang jalan.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah berarti ulama tidak boleh dikritik?
Boleh. Dua tokoh dalam seri ini saling mengkritik, dan seri ini mengkritik keduanya. Yang dibedakan adalah kritik atas pendapat dengan dalil, dan julukan atas orang tanpa membaca.
Apakah Al-Albani mengkafirkan Hizbut Tahrir?
Di ceramah yang aku baca utuh (Jami’ Turats Al-Albani fi al-Manhaj, Shamela 145205, ص319 sampai 339) tidak ada vonis kafir. Ia menilai HT keluar dari jalan yang lurus, menyebut pengaruh Mu’tazilah pada satu titik tolak dan satu kaidah, dan tetap mendoakan An-Nabhani. Alasan-alasannya diuji di episode tentang empat klaim Al-Albani.
Kalau harus beradab, apakah semua pendapat jadi sama benar?
Tidak. Yang lebih kuat dalilnya tetap dicari dan dipegang. Adab mengatur cara kamu berbeda, bukan menghapus perbedaannya.
Apakah tulisan ini ajakan bergabung ke suatu kelompok?
Bukan. Ini eksplorasi pemikiran. Kamu diajak membaca teks primer dan menimbangnya sendiri.
Kalau seorang ulama bisa mengkritik keras sambil mendoakan orang yang ia kritik, menurutmu apa yang paling sulit kamu tiru dari cara itu saat berhadapan dengan orang yang berbeda kelompok denganmu?